Pencarian
Ajang Re-charge Iman dan Takwa
Oleh:
Jalaluddin Alham
Anggota Komisi D, DPRD Jatim dari Fraksi Partai Demokrat
Puasa merupakan suatu manifestasi dan komitmen dari sebuah ‘produk’, yakni Keiman dan Ketakwaan kepada Allah Swt. Karena itu, bulan yang penuh dengan Rahmat, Berkah, dan Hidayah ini dapat dijadikan ajang re-chrage (mengisi kembali) keimanan dan ketakwaan kita sebagai umat Islam yang beriman. Lazimnya sebuah baterai handphone, ketika habis, maka harus diisi lagi agar handphone bisa tetap menyala dan aktif. Demikian halnya dengan iman kita, yang harus sesering mungkin di-charge dengan cara salat wajib lima waktu, salat sunah, puasa di bulan Ramadan, berzikir mohon ampun, dan bermunajat menyebut asma Allah agar kita senantiasa ingat kepada-Nya, serta tetap berjalan di atas ketentuan dan hukum Sang Penguasa langit dan bumi, Allah Swt. Begitulah analoginya dengan manusia terhadap Sang Pencipta.
Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, berpuasalah engkau, sebagaimana diwajibkan berpuasa bagi orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa kepada Allah Swt” . Di situ disebutkan ‘Hai orang-orang yang beriman’. Bukan ‘Hai manusia’. Itu artinya, berpuasa hanya mampu dan bisa dilakukan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. Belum tentu hanya dengan identitas sebagai orang Islam, maka dia juga sudah pasti beriman. Namun, berpuasa secara ‘utuh’ dan dalam arti ‘sebenarnya’ hanya dapat dilakukan oleh umat yang benar-benar beriman kepada Allah.
Puasa bagi umat manusia berlaku umum, tetapi pada hakekatnya berlaku khusus. Diartikan umum, karena puasa dapat dilakukan oleh semua lapisan umur. Sejak zaman Nabi Adam As, belum ada sejarah yang mencatat bahwa ada orang meninggal akibat puasa. Justru, karena berpuasa, seluruh metabolisme tubuh, khususnya alat pencernaan menjadi teratur dan sistematis.
Namun, sejarah pulalah yang mencatat banyak orang mati kelaparan bukan disebabkan oleh puasa. Tapi karena keserakahan segelintir oknum pengkhianat dan pemunafik agama. Di sisi lain, tercatat pula orang mati bukan karena kelaparan, tetapi justru karena keserakahan jasmani sehingga membuat tubuh ini terkontaminasi oleh berbagai macam penyakit. Di sinilah dahsyatnya nawaitu (niat) dan makna puasa.
Islam memberikan ajaran kepada umat bukan dengan jalan kekerasan, melainkan dengan kelemahlembutan dan kesantunan. Ini adalah kewajiban para Ulama, Kiai, Ustaz, dan Mualim untuk menyampaikan ‘Surat Cinta’ (Alquran) dari Allah kepada seluruh umat yang beriman.
Namun, apakah diterima atau tidaknya, itu tergantung Hidayah dari Allah Swt. Sebab, kepada siapa pun dan kapan pun, Allah berhak atas itu, yang biasa disebut dengan hak prerogatif Allah Swt.
Sebagai contoh realitas, sikap anarkis yang kerap kali terjadi ketika sebuah kelompok tertentu melakukan penertiban (sweeping) terhadap tempat-tempat hiburan dewasa yang masih beroperasi pada bulan Suci Ramadan.
Mengingatkannya adalah suatu kebenaran, tapi dengan cara kekerasan, itulah yang salah. Mungkin kebanyakan kelompok tertentu sering kali melakukan suatu kekerasan dengan mengatasnamakan Islam.
Dalam Islam, apa pun alasannya, kekerasan itu tidak dibenarkan. Oleh karena itu, ketika kita telah berusaha untuk memperingatkan dan mengingatkannya, tetapi masih saja tidak berubah, maka kembalikanlah segala urusan hanya kepada Allah.
[Sumber : Koran Bhirawa "maz"]
































