Pimpinan Sementara DPRD beserta Seluruh Jajaran Sekretariat DPRD Kab. Sidoarjo Mengucapkan Selamat atas Pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo Periode 2014-2019

Dispendik Sidoarjo Mengubah Mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)

1 comment

Jamin Obyektif dengan Nilai Unas

Puluhan ribu lulusan SD dan SMP sederajat berancang-ancang merebut kursi sekolah-sekolah negeri. Tahun ini Dinas Pendidikan Sidoarjo menerapkan kebijakan baru dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Apa saja?

SIDOARJO (Jawa Pos) – PENERIMAAN siswa baru menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Tahun ini Dinas Pendidikan (Dispendik) Sidoarjo menerapkan kebijakan berbeda. Jika tahun sebelumnya mensyaratkan tes, lalu nilainya digabungkan dengan nilai ujian nasional (unas), tahun ini tidak ada lagi tes.

 

Kepala Dispendik Sidoarjo - Ir. Agoes Boedi Tjahjono, M.MT

Penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMP maupun SMA murni menggunakan nilai unas. Hanya PPDB SMK yang menambahkan tes bakat dan minat serta kompetensi keahlian. Kepala Dispendik Sidoarjo Ir.  Agoes Boedi Tjahjono, M.MT  menjelaskan, keputusan meniadakan tes dalam PPDB itu diambil dengan melibatkan beberapa stakeholder. Di antaranya, DPRD, komite-komite sekolah, pimpinan yayasan pendidikan, dan LSM.

Sebagian besar menyatakan memilih nilai unas sebagai syarat masuk sekolah. ”Kesepakatan itu bertujuan mengurangi kelemahan dalam PPDB yang menggunakan tes,” tutur Agoes. Dia menegaskan, nilai siswa yang digunakan adalah nilai unas, bukan nilai ujian sekolah maupun nilai akhir atau nilai kelulusan. Dengan begitu, penilaian akan objektif dan tidak ada rekayasa. ”Kalau nilai sekolah, kan sekolah sendiri yang menilai. Kalau unas, kan yang menilai bukan sekolah,” terangnya.

Dispendik Sidoarjo merencanakan, PPDB siswa SMP dan SMA dibuka pada 21 hingga 23 Juni. PPDB siswa SMK lebih awal, yakni pada 20 hingga 22 Juni. Para siswa yang akan mendaftar bisa mengambil dan  menyerahkan formulir di semua sekolah di dekat tempat tinggal masing-masing. Siswa-siswa yang bertempat tinggal di Gedangan, misalnya. Meski akan memilih sekolah di Kota Sidoarjo, mereka bisa mengambil dan mendaftar di Gedangan. Para siswa diberi hak untuk memilih dua sekolah yang diminati.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Kabid Dikmen) Dispendik Mustain Baladan menambahkan,
dispendik sengaja menggunakan cara tersebut agar para siswa tidak perlu jauh-jauh datang ke sekolah. Selain itu, mengurangi antrean padat para pendaftar di sekolah-sekolah tertentu. ”Tidak ada perbedaan prioritas dari mana pun siswa mendaftar,”kata dia. Sebab, penilaian tidak
didasari jarak tempat tinggal dengan sekolah, melainkan nilai unas saja. ”Kalau nilai unasnya bagus, silakan mendaftar,” ujarnya.

Mustain menyebut, ada beberapa mata pelajaran yang akan dijadikan patokan. Bagi calon siswa SMP, yang jadi patokan ialah nilai bahasa Indonesia, matematika, dan IPA. Artinya, bila terjadi kesamaan nilai total, yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan peringkat tertinggi adalah nilai unas dengan urutan bahasa Indonesia dulu. Kemudian, bila tetap sama, nilai matematika. Terakhir, nilai IPA yang dijadikan acuan.

Bagi calon siswa SMA, bila nilai akhir unas sama, yang dijadikan patokan adalah nilai bahasa Indonesia dulu, lalu matematika, IPA, dan bahasa Inggris. Adapun untuk calon siswa SMK, ada tiga penilaian. Di antaranya, nilai tes unas, tes bakat dan minat, serta tes khusus kompetensi keahlian. Nilai tes bakat dan minat itu diambil dari psikotes. Sedangkan nilai tes kompetensi keahlian dilakukan dengan wawancara dan tes khusus.

Setelah pendaftaran hingga 23 Juni, Dispendik menjadwalkan pengumuman penerimaan pada 25 Juni. Kemudian, pendaftaran ulang dilakukan mulai 27 Juni. Namun, bila dalam masa daftar ulang pagu sekolah belum terpenuhi karena ada siswa yang tidak daftar ulang, akan dilakukan penjaringan lagi. ”Tapi, bila dalam penjaringan tahap kedua itu pagu juga belum terpenuhi, bangku pagu kosong diberikan kepada calon peserta didik yang berdomisili di wilayah sekolah
atau desa terdekat,” papar dia.

Pertimbangan tersebut mengacu sejarah lahan pendirian sekolah. Hal itu diberlakukan pada sekolah-sekolah yang memiliki riwayat pendirian di tanah desa. ”Misalnya, SMPN 4 Sidoarjo  Penduduk asli di sekitar desa tersebut bisa diprioritaskan menempati pagu yang kosong,” terangnya. Pengumuman tahap kedua itu dilakukan pada 30 Juni sekaligus siswa dapat mendaftar ulang. Siswa-siswa tersebut akan mengikuti MOS mulai 11 Juni.

Selain jalur reguler, dibuka jalur prestasi. Jalur itu dibuka sejak 1 Juni lalu hingga 9 Juni. Jalur tersebut dibuka bagi siswa-siswa yang memiliki prestasi dalam bidang akademis, kesenian, keolahragaan, hingga kategori terbaru, yakni bidang kepramukaan. ”Kepramukaan baru kami buka tahun ini,” terangnya.

Minimal yang bisa men daftar dalam jalur prestasi itu adalah siswa-siswa berprestasi di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, maupun internasional. Di tingkat kabupaten, minimal siswa yang bersangkutan meraih peringkat I. Di tingkat provinsi, minimal siswa itu menduduki peringkat I dan II. Pun, tingkat nasional maupun internasional, pelajar tersebut meraih peringkat I, II, dan III. Peserta yang mendaftar lewat jalur itu juga tak perlu mengikuti tes lagi. Mereka tinggal menyerahkan bukti prestasi dan nilai unas sebagai pelengkap. ”Panitia akan melakukan verifikasi dan klarifikasi,” terangnya. (adh/c11/roz)

 

Jumlah Kelas Bertambah, Pagu SMP pun Naik

DALAM PPDB tahun pelajaran 2011–2012, Dispendik Sidoarjo menyatakan akan ada pe nambahan kuota, yaitu 242 siswa SMP. Namun, untuk SMA dan SMK, tidak ada penambahan pagu. Mustain Baladan menerangkan, pe nambahan pagu tersebut terkait dengan penambahan beberapa ruang kelas di sejumlah SMP.

Mustain menyebut, salah satu sekolah itu adalah SMPN 5 Sidoarjo. Sebelumnya, SMP tersebut memiliki enam kelas, kemudian ditambah menjadi tujuh kelas. Selain SMP itu, masih banyak SMP lain yang memiliki tambahan jumlah kelas.

Menurut Mustain, setiap kelas diisi 36 siswa. Kecuali kelas RSBI, yang masing-masing hanya diisi 32 siswa. Total kelas SMP 349 ruang dengan kuota 12.486 siswa. Padahal, dengan jumlah pagu di tiap kelas, seharusnya yang bisa ditampung 12.564 siswa. Karena itu, selisihnya mencapai 78 siswa.

 

MASIH GRES: Siswa-siswi baru SMAN 2 Sidoarjo akan menikmati sekolah baru senilai Rp 11 miliar di Jalan Lingkar Bara

Demikian pula halnya dengan jenjang SMA yang menyediakan seratus kelas. Menurut dia, total pagu keseluruhan 3.528 kursi. Padahal, dengan jumlah pagu di tiap kelas, seharusnya yang diterima bisa 3.600 siswa. Selisihnya pun mencapai 72 siswa. Untuk siswa SMK, disediakan 51 kelas dengan target pagu keseluruhan 3.528 pelajar. Tidak ada selisih dalam perhitungan pagu SMK.

Menurut Mustain, selisih jumlah pagu keseluruhan disebabkan adanya kelas RSBI yang membatasi jumlah murid, yakni satu kelas hanya diisi 32 anak. Menurut dia, jumlah tersebut termasuk dalam kelas RSBI. Siswa RSBI memang sengaja dibatasi hingga berjumlah 32 murid.

Dari jumlah yang tersedia, menurut Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dispendik Sidoarjo Imron Rozak, ada sekitar 29.995 siswa SD yang lulus se-Sidoarjo. Dengan jumlah pagu 12.486 siswa di SMP negeri, ada sekitar 17.509 siswa yang tidak masuk SMP negeri. Dengan total lulusan SMP 23.723 siswa dan pagu 3.528 kursi untuk SMA, yang tidak masuk SMA negeri sekitar 20.196 siswa. (adh/c11/roz)


  1. di smpn2buduran mohon ditinjau kembali siswa siswi bernama winda permatasari dan windi permatasari kelas 7f setahu kami danem tidak mencukupi tapi bisa diterima di smpn2 atas dasar rekomendasi siapa mohon ditelusuri mksh

Beri Komentar