Pimpinan Sementara DPRD beserta Seluruh Jajaran Sekretariat DPRD Kab. Sidoarjo Mengucapkan Selamat atas Pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo Periode 2014-2019

Pasar Tumpah Tiap Minggu di Wadung Asri

0 comments

Sidoarjo, Bhirawa

Pasar tumpah selalu muncul tiap minggu di Pasar Wadungasri, akibat penggunaan sarana jalan raya untuk parkir motor di depan pasar Tropodo, Waru, membuat kemacetan jalan selalu menjadi langganan tiap hari di pagi hari. Kondisi ini diperparah melubernya pedagang hewan unggas yang bertebaran di sekitar pasar.

Ketua Komisi C DPRD, Nur Achmad

Pada hari-hari biasa kemacetan tidak begitu terasa, baru terasa kepadatan laluy lintas pada minggu pagi mulai pukul 07.00 hingga 09.00. Bukan kendaraan yang mampir ke pasar, tetapi kendaraan merayap dari arah utara menuju selatan akibat ada penyempitan jalan di depan pasar. Bayangkan parkir motor bukan hanya memakan satu lajur jalan tetapi biasa berjajar sampai 3 lajur.

Jalan depan pasar yang hanya 6 meter itu termakan separohnya. Pada keadaan normal dua mobil bisa berjalan beriringan tetapi dengan terjadinya penyempittan jalan  menyisakan satu ruas yang hanya bisa dilewati satu mobil saja.

Dalam pantauan Bhirawa Minggu (21/8) kemarin, petugas Polsek Waru terpaksa turun ke tengah jalan untuk memilah lajur motor dan mobil. Untuk pengendara motor diarahkan mengambil  sisi kiri jalan sedangkan kanan jalan untuk mobil.

Upaya petugas yang berdiri di tengah jalan dengan terik panas seperti itu menjadi sia-sia. Karena motor yang sudah diarahkan ke kiri jalan itu tersuymbat oleh parkir motor di mulut pasar.

Kendaraan roda dua akhirnya malah tidak bergerak, akhirnya pemilahan ini gagal. Motor masuk kembali ke lajur mobil.

Ketua Komisi C DPRD, Nur Achmad, mengeluhkan, konsep pembangunan Pasar Wadungasri dua lantai, yang mengenyampingkan areal parkir kendaraan. Parkir hanya untuk motor dan itu sangat sempit di sisi utara pasar.

Itupun sebagian areal parkir dalam pasar di lahan stan pedagang, sehingga volume parkir menjadi minim. Sementara jumlah pedagtang dan pembeli terus bertambah.

Karena sempitnya ruang parkir, akhirnya jalan raya yang dikorbankan. Kendaraan roda diparkir di jalan dengan semaunya. Kalau hanya satu baris saja tidak masalah, tetapi parkir itu sampai tiga baris.

“Coba bayangkan jalan raya yang padat itu harus tertahan akibat ulah pemilik motor dan jukir yang memakan jalan, kemacetan kerap terjadi terutama pada hari minggu,” ujarnya.

Ruang parkir mobil tidak tersedia dipasar ini, untuk bongkar muat barang pedagang seperti sayur mayur, unggas dan sebagainya juga memakan jalan. Parahnya lagi ada puluhan pedagang terutama jenis hewan unggas tidak mau masuk pasar.

Mereka berjualan di tepi jalan, transaksi pedagang dan pembeli di tepi jalan membuat makin awut-awutan. Mulai penjual burung dara, burung berkicau, ayam, bebek, mentok, penjual kacet VCD menumpuk sepanjang jalan raya depan pasar.

Pedagang yang meluber di jalan ini juga melayani pemotongan hewan sampai tuntas. Kemudahan ini membuat pembeli lebih senang membeli di luar pasar. Tetapi jalanh yang jadi korban, pedagang dan pembeli serta jukir seperti cuek dengan kemacetan jalan. Tetapi karena sudah terbiasa begini, akhirnya semuanya seperti dianggap alami. “Memang repot dengan masyarakat,” ujarnya.

Jl Raya Tropodo merupakan urat nadi lalu lintas arteri yang menghubungan ke berbagai arah, mulai yang akan ke Sidoarjo, bandara Juanda dan Sedati. Kian lama beban jalan ini makin berat karena tingginya volume kendaraan.

Nur Achmad, berharap, perlu ada solusi untuk mengatasi problem ini supaya masyarakat banyak tidak terganggu dan pedagang juga enak berjualan. Kawasan pasar berada di simpang empat dan simpang tiga Tropodo yang sangat vital.

Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkembang sangat cepat, perlu diantisipasi dengan penataan yang lebih komprehensif lalu lintas di kawasan ini. Petugas kepolisian sering turun mengatur lalu lintas, tetapi tingginya pembeli yang masuk pasar, membuat pasar itu kewalahan menampung kendaraan yang parkir. [hds]


Beri Komentar