Segenap Anggota dan Sekretariat DPRD Kabupaten Sidoarjo Mengucapkan Selamat Atas Pelantikan Pimpinan DPRD Kabupaten Sidoarjo Periode Tahun 2014-2019

PILIH HIDUP DI JALAN CAHAYA

0 comments

PILIH HIDUP DI JALAN CAHAYASaya bersyukur, sampai sekarang masih dipercaya memegang amanah memimpin semua mahasiswa dari Indonesia,” kenangnya sambil tersenyum. Awalnya pria bersahaja ini berkarir sebagai pengajar dan Kepala Sekolah di Pondok Pesantren Al Khozini, Desa Siwalan Panji, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, yang notabene adalah pesantren keluarga. Mulai tingkat MI, MTs, MA hingga menjadi Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIA). Dirinya juga sempat dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pesantren se – Jatim “Robitho Ma’ahid” tahun 2002 – 2003.
Penguasaan ilmu-ilmu agamanya yang sangat mumpuni, ditambah reputasi publik yang disandangnya sebagai pengurus Pesantren, membuatnya begitu sibuk memenuhi undangan diskusi, ceramah dan acara unjuk wicara (talkshow) baik di dalam maupun luar kota.
Ketika PKB terbentuk tahun 1998, Pria yang hobby sekali sepakbola ini bergabung dan menjadi anggota Dewan Syuro PKB Sidoarjo. Tahun 1999 – 2005, Gus Salam resmi diangkat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa Sidoarjo. Sebuah posisi yang strategis di Partai yang diproklamirkan oleh KH.Abdurrahman Wahid.
Kelahiran Pasuruan 46 tahun silam, memang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Ia lulus Madrasah Ibtidaiyah hingga Aliyah di pesantren Al – Khozini tahun 1982. Gus Salam kemudian melanjutkan belajarnya di Mekkah dan lulus sarjana pada tahun 1986.
Pandangan hidupnya sederhana “ hidup itu harus dimotivasi dengan berjuang dan beribadah, berjuang dalam hal memperjuangkan ilmu pengetahuan”. Hal ini sejalan dengan latar belakang kehidupannya. “Kyai” yang oleh santri serta masyarakat Sidoarjo sangat dihormati ini pernah hidup prihatin sebagai petani sawah dan bertambak. Suka duka sebagai petani padi dan ikan mulai dirasakannya sejak awal menikah. “ Saya menikah tidak punya apa-apa. Modal dari orang tua kami sendiri yang mengelola,” ceritanya tentang masa lalu. Melalui pasang surut kehidupan ia sangat bersyukur bisa melaluinya dengan baik sampai selama ini. “Alhamdulillah Allah memberikan jalan dan berhasil sampai sekarang.” tuturnya. Bagi Gus Salam kisah hidupnya dulu merupakan fenomena dari sebuah proses mobilisasi keluarga santri pedesaan yang mampu menembus batas-batas lokal dan kemudian mengikatkan diri ke dalam jaringan intelektual secara global. Namun sebagai intelektual berlatar belakang pendidikan agama, ia tetaplah seorang pengasuh pondok pesantren yang setia pada tradisi Islamnya. “Bagaimanapun juga profesi saya, kembali lagi kepada lingkungan semula yaitu seorang kiai, sebagaimana orang tua saya sebagai pendiri Al – Khozini,” jelasnya. Ia pun sangat bersyukur karena keluarganya sangat mendukung aktifitasnya selaku legislator. “ Selama saya masih lurus di jalan Allah, mereka sangat mendukung sekali apa yang saya raih selama ini,” tutur pria yang selalu tersenyum ramah pada semua orang ini. Dalam menjalankan amanah rakyat Gus Salam mengaku memiliki Visi dan misi tersendiri. Kesejahteraan rakyat adalah hal mendasar baginya. Termasuk dalam kategori tersebut adalah masalah pendidikan serta kesehatan. “ Selama ini saya nilai anggaran rakyat melalui APBD belum tepat sasaran, buktinya kemiskinan masih banyak di Sidoarjo.” tegasnya. Sebagai anggota Komisi D ia menunjuk pelaksanaan pembagian raskin selama ini masih kurang tepat sasaran.

(Sumber : Parlementaria Edisi 11 Volume 3 Tahun 2008 )


Beri Komentar