Pimpinan dan Anggota DPRD beserta Sekretariat DPRD Kab. Sidoarjo Mengucapkan Selamat Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo Ke 155 Dengan semangat hari jadi ke 155 Kabupaten Sidoarjo, kita songsong pesta demokrasi yang aman demi kelanjutan pembangunan menuju Sidoarjo yang sejahtera, mandiri dan berkeadilan

Potensi Produksi Sepatu Sandal di Desa Seruni dan Punggul

6 comments

Masih Kesulitan Tenaga Terampil

Mayoritas sepatu dan sandal yang dijual di Wedoro dan Tanggulangin berasal dari Kecamatan Gedangan. Tepatnya Desa Seruni dan Punggul.

SEKILAS, tidak ada yang luar biasa dari Desa Seruni dan Punggul. Rumah-rumahnya mirip rumah penduduk desa pada umumnya. Pada siang, dua desa tersebut juga sepi. Beberapa ibu-ibu duduk-duduk di depan rumah. Namun, jika diperhatikan baik-baik, ibu-ibu tesebut ternyata sedang dikelilingi sepatu. Mereka sedang menghilangkan sisa lem yang menempel di sepatu yang mereka buat. Aktivitas warga desa itu rata-rata dilakukan di belakang rumah. Yaitu, di gudang atau bengkel pembuatan sepatu dan sandal.

”Kami memang tidak punya gerai atau showroom. Ini semua home industry yang dikirim ke luar kecamatan,” ujar Kepala Desa Seruni Saiful Imaduddin.

Pembuatan sepatu dan sandal itu berawal dari Desa Seruni. Di desa tersebut, ada lebih dari 50 pengusaha sepatu rumahan. Lambat laun, usaha itu berkembang hingga di Desa Punggul. Namun, jumlahnya masih kurang dari sepuluh pengusaha. Meski berskala rumahan, sepatu dan sandal yang diproduksi sudah berada di mana-mana. ”Sandal dan sepatu di Tanggulangin dan Wedoro rata-rata juga kiriman dari kami,” ujarnya. Di Tanggulangin dan Wedoro, memang ada pengrajin sepatu dan sandal. Namun, jumlah pengrajin dan produksinya tidak sebanyak di Seruni.

Di dua desa tersebut, mayoritas yang dibuat adalah sepatu kulit. Baru belakangan ini saja ada permintaan untuk pembuatan sepatu dari kulit sintetis. Untuk pembuatan sandal, selain sandal resmi, juga ada sandal jepit yang biasanya terbuat dari busa. Pembeli yang datang umumnya memang distributor besar. Namun, ada juga yang membeli satu dua pasang saja.

Khusus untuk distributor, biasanya mereka memakai merek sendiri. Merek sandal atau sepatu Cayotte dan King Starr juga dibuat di Seruni. Beberapa sandal dan sepatu bahkan masuk ke Ramayana maupun Carrefour. Namun, tentu mereknya berbeda-beda sesuai dengan pesanan distributor. Distribusi sepatu juga sampai ke seluruh Indonesia. ”Ada beberapa distributor yang mengirimkan ke luar negeri. Misalnya, ke Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia,” ungkapnya.

Dalam setahun, omzet per perajin bisa ratusan juta hingga Rp 1 miliar. Biasanya, pemesanan paling ramai saat dua bulan menjelang Lebaran hingga tahun baru. Pada bulan-bulan tersebut, pesanan tidak pernah sepi. Namun, bulan-bulan setelahnya tidak terlalu ramai.

Meski berkembang pesat, Saiful menjelaskan bahwa umumnya pengusaha di Seruni dan Punggul kesulitan tenaga terampil. Kebanyakan pegawai diambil dari luar daerah, seperti Malang. Sebenarnya, banyak pelatihan yang diadakan oleh berbagai pihak. Namun, entah bagaimana, tenaga ahli pembuatan sepatu di Sidoarjo masih sangat jarang. ”Mungkin gereget untuk belajar dan meluangkan waktunya yang kurang,” ujarnya.

Berawal dari Pekerja, Kini Jadi Raja
NAMA Haji Ichwan tidak asing lagi di Desa Seruni dan Punggul. Bapak tiga anak tersebut merupakan salah seorang pengusaha sepatu yang cukup sukses. Padahal, dulu dia hanya seorang pekerja biasa di salah satu pengusaha sepatu. ”Waktu itu, saya bekerja sambil belajar,” ungkapnya.

Pada 1992,dia masih ikut orang sambil terus belajar. Baru pada 1994, dia mulai membuka usaha sendiri. Awalnya, dia menerima pesanan dari distributor dan pabrik-pabrik kecil. Lambat laun, dia mulai merambah masuk ke Pasar Turi. Dia punya merek sepatu dan sandal sendiri. Yaitu, New Cairo dan New Paulo. Dua merek tersebut sudah masuk ke Ramayana dan Carrefour.

”Saya sering diajak pameran. Dari situ, saya mulai berkenalan dengan para distributor sepatu hingga sekarang sebesar ini,” ujar suami Sulistyowati itu. Ichwan memang salah seorang pengusaha sepatu yang rajin mengikuti pameran. Dia mengikuti pameran, antara lain, di Sidoarjo, Jakarta, Batam, Banjarmasin, dan Mataram.

Saat ini, Ichwan bisa dibilang menjadi raja sepatu. Dia sudah mendapatkan pesanan dari berbagai penjuru daerah. Dia memiliki 25 pegawai di Sidoarjo dan 15 pegawai di Mojokerto. Dia juga memproduksi sepatu di Mojokerto. Dia bisa menghasilkan 150-200 pasang sepatu per hari. Untuk desain sepatu, dia biasanya belajar dari pelatihan-pelatihan. Banyak juga distributor yang memesan sepatu dengan membawa desain sendiri.

Sepatu yang diproduksi rata-rata berbahan kulit. Dia mengambil bahan dari PT Ecco, Sidoarjo, dan perajin kulit di Semarang. Harga kulit mengikuti harga dolar. Dia menghabiskan 4.800 feetkulit per bulan. Harga jual sepatu buatannya Rp 60-105 ribu per pasang. Harga bergantung pada desain dan bahan. Di luar, harganya bisa melonjak lebih tinggi.

Jadikan Sentra UKM Terintegrasi
UNTUK mengoptimalkan produksi sepatu di Desa Seruni dan Punggul, Kabag Perekonomian Pemkab Sidoarjo Fenny Apridawati menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan penelitian lapangan. Hasilnya, para perajin berharap, dua desa itu dipersatukan dalam satu kawasan sentra sepatu dan sandal. Apalagi, lokasi keduanya berdekatan.

”Asal usul pembuatan sepatu memang di Desa Seruni. Namun, perkembangan di Desa Punggul sangat pesat dan merambah pasar nasional,” ujarnya. Proses integrasi itu, ujar Fenny, bisa melalui pembentukan koperasi. Untuk saat ini, pembentukan koperasi masih diselesaikan oleh badan hukum.

Dia menegaskan, pembentukan koperasi saja tidak cukup untuk mengenalkan potensi dua desa tersebut. Tapi, harus ada sesuatu yang menarik minat masyarakat. Selama ini, meski mayoritas penduduk adalah perajin sepatu dan sandal, hampir tidak ada yang tahu. Sebab,home industry mereka tidak memiliki etalase. Karena itu, penduduk luar yang kebetulan lewat tidak akan menyangka bahwa di wilayah tersebut adalah pusat pembuatan sepatu dan sandal.

”Akan jadi potensi wisata UMKM yang luar biasa kalau sentra sepatu dan sandal Gedangan difasilitasi dengan unsur amenitas (potensi fasilitas pendukung Red),” tegas Fenny. ”Jika tidak ada yang bisa dilihat, tentu masyarakat luar tidak akan tertarik,” tambahnya.

Jika hal itu dilakukan, dua desa tersebut akan menjadi potensi wisata UMKM yang luar biasa. Apalagi, saat ini banyak wisatawan yang berkunjung hanya untuk melihat luapan lumpur Lapindo. Jadi, tidak tertutup kemungkinan orang-orang tersebut mampir ke Desa Seruni dan Punggul. ”Namun, tentu orang yang mampir itu harus bisa membeli sesuatu, entah lewat koperasi atau etalase yang dibuat penduduk,” tegas Fenny.

(Sumber : Koran Jawa Pos “sha/eko/c6/mik”)


  1. Kl Saya dari Purwokerto mau ke desa Seruni atau Panaggul sebaiknya lewat mana ya ?
    Terima kasih

  2. saya baru baru ini mempunyai usaha home industri sepatu dan sandal.bisakah saya bergabung dengan para pengusaha sepatu lainya di desa seruni? terima kasih

  3. tolong dong no tlp yg bs dihubungi…..

  4. cabang d Malang da kh???

  5. bisa minta nomer tlp haji ichwan ?

  6. Dg Hormat

    ESATA MAKASSAR adalah Travel & Marketing Event Management
    Kami memiliki paket program Seller meet Buyer, dimana pengusaha, pengrajin kami pertemukan dalam
    sebuah forum pertemuan dimana mereka dapat bertransaksi.
    Oleh karena itu, bila berminat melakukan pemasaran produk dan jasa ke SULSEL, silahkan hubungi kami,

    Terima kasih

    Salam Sukses

    Bambang Herriyanto

    PT. EKA SAFIR WISATA TOUR & TRAVEL
    esata makassar

    Komp. Ruko Zamrud BlokE No.19
    JL. A.P. Pettarani – Makassar (South Sulawesi)
    Phone : (62)-411-2088992 Fax : (62)-411-4662373
    Email : esatamakassar@yahoo.com
    http://www.mymakassar.com

Beri Komentar