Segenap Anggota dan Sekretariat DPRD Kabupaten Sidoarjo Mengucapkan Selamat Atas Pelantikan Pimpinan DPRD Kabupaten Sidoarjo Periode Tahun 2014-2019

Romantisme Islam di Benua Biru

0 comments

Islam pernah begitu berjaya di Eropa beberapa abad silam. Mulai masuk di Spanyol hingga menyebar ke Austria, Prancis, Turki, dan Semenanjung Balkan.

99 Cahaya di Langit Eropa PENULIS Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra PENERBIT Gramedia Pustaka Utama TERBIT 2011 HALAMAN 412 halaman INFO BUKU www.hanumrais.com

ARTIKEL – ISLAM memang bukan keyakinan nomor satu di Eropa. Meski be gitu, agama yang diusung Nabi Mu hammad SAW itu pernah meng gapai kemasyhuran di Benua Biru yang notabene adalah pusat dari kekuasaan Nasrani dan budaya Barat.

Sisa-sisa peninggalan Islam masih banyak bertebaran di beberapa sudut Eropa. Nah, buku 99 Cahaya di Langit Eropa ini mengajak kita menapaktilasi jejak-jejak kejayaan tersebut. Dengan gaya bertutur yang apik, penulis membawa kita mengunjungi situs-situs Islam yang masih bertahan di tengah derasnya modernisasi dan menguatnya sekularisme di Eropa.

Siapa menyangka, pemimpin besar Prancis Napoleon Bonaparte berubah jadi sosok yang religius setelah sukses menaklukkan Mesir. Dia memerintahkan pembangunan monumen pintu gerbang Arc de Triomphe du Carrousel dan Arc de Triomphe de l’Etoile yang mengapit jalan Champs-Elysees di Paris.

Dua monumen tersebut berada pada garis lurus. Garis lurus itu dikenal dengan sebutan Axe Historique, garis imajiner yang tepat membelah Paris. Sebutan lainnya adalah Voie Triom phale alias Jalan Kemenangan.

Garis lurus tersebut kalau diterus kan ke arah timur keluar Paris akan menuju pada sebuah tempat yang sangat dikenal komunitas Islam: Makkah! Kebetulan? Entahlah. Yang pasti, setelah menaklukkan Mesir, tangan kanan Napoleon, Jenderal Francois Menou, memutuskan masuk Islam. Bagaimana Napoleon? Sejumlah kalangan meyakini bahwa pemimpin besar Prancis yang dijuluki Sang Penakluk itu pun telah menjadi muslim sebelum mengembuskan napas terakhir.

Masih di Paris, di Museum Louvre, ada jejak Islam yang terpampang pada lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus. Lukisan tersebut mungkin tidak setenar Monalisa karya Leonardo Da Vinci yang begitu terkenal dan menjadi koleksi kebanggaan Louvre.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa pinggiran hijab yang dipakai Bunda Maria bertakhtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Bak wisata religi, penulis membawa kita melanjutkan ekspedisi ke Spanyol. Tepatnya ke Cordoba dan Granada. Dua kota itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Islam di Eropa.

Di Cordoba-lah Islam kali pertama masuk Spanyol pada abad kedelapan. Tujuh abad berselang, Granada menjadi benteng terakhir Islam di Negeri Matador tersebut. Rezim Ferdinand dan Isabella berhasil mengusir Islam dari Spanyol kala itu. Setelah ratusan tahun berlalu, sisa-sisa kejayaan Islam masih sangat terasa di Cordoba dan Granada.

Di Cordoba ada Mezquita yang berarti masjid. Luasnya 24 ribu meter persegi. Ukiran kaligrafi nan indah menghiasi sudut-sudut Mezquita. Juga ada mihrab, tempat imam memimpin salat. Namun, setelah berkuasanya Nasrani, mihrab itu dibatasi oleh jeruji besi.

Mezquita pun bukan lagi sebuah masjid, sudah berubah fungsi menjadi gereja. Tak ada lagi alunan azan yang ber kumandang. Yang ada sekarang adalah nyanyian puji-pujian. Secara fisik, Mezquita identik dengan mas jid. Namun, lonceng dan salib yang menghiasi kubah Mezquita me negaskan bahwa tempat itu bu kan lagi arena peribadatan bagi kaum muslim.

Mezquita telah menjadi simbol dari Nasrani. Kalau di Cordoba ada Mezquita, di Granada ada Al-Hambra, istana dari kekhalifahan Nasrid. Al- Hambra adalah simbol kejayaan Islam kala itu. Sayang, kekuasan Islam tidak langgeng.

Di Granadalah, Sultan Mohammad Boabdil akhirnya menyerahkan kunci istana kepada Ferdinand dan Isabella, penguasa Spanyol kala itu. Sebelum meninggalkan Granada, Sultan Boabdil meminta Ferdinand dan Isabella melindungi kebebasan beragama warganya.

Baik yang Nas rani, Islam, maupun Yahudi. Sayang, ha rapan tersebut tak kesampaian. Sepuluh tahun setelah menguasai Granada, Ferdinand dan Isabella memerintahkan pembaptisan masal kepada warga Islam dan Yahudi. Jejak kebesaran Islam juga membawa penulis melanglang ke Istanbul, Turki.

Di sini ada Hagia Sophia. Ka lau di Cordoba ada Mezquita, masjid yang berubah jadi gereja, cerita sebaliknya ada di Hagia Sophia. Bangunan setinggi 200 kaki itu awalnya adalah katedral Byzantium Romawi yang berubah menjadi masjid seiring dengan kemenangan Dinasti Usma niyah.

Sultan Mehmed, sang penakluk Istanbul, menutup ikon-ikon Nasrani yang ada di Hagia Sophia untuk kenyamanan umat muslim yang beribadah. Tapi, Sultan Abdulmajid kemudian membuka kain penutup tersebut.

Jadilah ukiran kaligrafi Allah, Muhammad, dan Allahu Akbar bersanding dengan gambar Bunda Maria dan Bayi Yesus. Hagia Sophia sekarang adalah museum yang mewajibkan pengun jungnya mem beli tiket sebelum menikmati kein dahan arsitektur di dalamnya.

Background penulis sebagai jurnalis membuat alur cerita ini begitu ringan mengalir. Kita seolah diajak ”jalan-jalan” menikmati paket wisata religi di Eropa. Dengan pengalaman tiga tahun tinggal di Wina, Austria, penulis paham benar bagaimana beratnya menjadi muslim di tengah komunitas Nasrani, ateis, dan sekuler.

Setting tulisan pun penuh warna. Euforia Piala Eropa (Euro) 2008 meng hiasi antusiasme imigran Turki kala nonton bareng di fan zone di depan kantor wali kota Wina.

Hal sama tersaji ketika warga Spanyol begitu bersemangat mendukung tim kesayangannya yang berlaga di Piala Dunia 2010. Islam kini memang minoritas di Eropa. Namun, jejak-jejak yang bertebaran menjadi bukti bahwa Islam pernah berjaya di Benua Biru. (*)


Beri Komentar