Pencarian
Telah Lebih dari Seminggu Pengoperasian Pos Pelayanan Kecelakaan Terpadu
Sudah lebih dari seminggu pos pelayanan kecelakaan terpadu beroperasi di Jalan Trosobo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Hasilnya, angka kecelakaan berkurang drastis. Hebatnya, ada wakil negara sahabat yang datang untuk mengkaji pengoperasian pos tersebut.
TIGA mobil berjajar di lahan berukuran 10 x 10 meter. Yakni, mobil milik patroli lalu lintas, mobil milik dinas perhubungan, dan ambulans. Mobil-mobil tersebut disiagakan di pos pelayanan kecelakaan terpadu.
Ada beberapa petugas di pos yang baru diresmikan sekitar sepekan lalu itu. Salah seorang di antaranya terus mengamati monitor di atas meja. Lewat monitor itu, dia memantau suasana Jalan Raya Trosobo yang direkam melalui CCTV. Jika terjadi kecelakaan, petugas langsung tahu tanpa menunggu laporan.
Sementara itu, petugas bagian kesehatan menyiapkan semua perlengkapan medis. Mereka selalu siaga untuk memberikan pelayanan pertama kepada korban kecelakaan.
Sepekan sekali para petugas itu akan melakukan evaluasi bersama. Evaluasi tersebut meliputi tingkat kerawanan dan pelayanan maksimal terhadap masyarakat.
Pos itu beroperasi sejak 12 Februari lalu, setelah diresmikan secara langsung oleh Wakapolda Brigjen Pol Robert Aritonang. Berbeda dari posko kecelakaan lainnya, posko itu dikelola beberapa instansi. ”Ada satlantas polres, jasa marga, dinas perhubungan, dinas PU bina marga, dan dinas kesehatan,” jelas AKP Ahrie Sonta, Kasatlantas Polres Sidoarjo.
Beberapa institusi itu bekerja sama untuk menangangi kecelakaan di sekitar Jalan Trosobo. Biasanya, pengendara selalu waswas saat melintas di jalan tersebut. Wajar, di jalur yang menghubungkan Surabaya dan Mojokerto itu banyak kendaraan yang tancap gas. Hampir setiap hari terjadi kecelakaan. Bahkan, tidak jarang timbul korban jiwa.
Pembangunan pos pelayanan kecelakaan terpadu itu adalah ide AKBP M. Iqbal, Kapolres Sidoarjo. Dia mengaku prihatin terhadap angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas di jalur itu. “Ini kami renungkan bersama,” katanya. Setelah itu, muncul ide penanganan kecelakaan secara bersama.
Iqbal lalu memisalkan penanganan kecelakaan di Belanda. Di negara kincir angin itu, penanganan dilakukan bersama. Ada polisi, rumah sakit, PMK, dan beberapa instansi yang berhubungan dengan pengguna jalan. Tujuannya, mengurangi tingkat fatalitas kecelakaan. “Saya berpikir, akan lebih baik jika di Indonesia diterapkan sistem yang sama. Saya mengawalinya di Sidoarjo,” ujar dia.
Hasilnya, dalam seminggu angka kecelakaan turun drastis. Sebelum ada posko, tiap hari terjadi kecelakaan. Korban terkadang mengalami luka ringan, berat, atau bahkan meninggal dunia. Tapi, sejak posko beroperasi, angka kecelakaan menjadi satu peristiwa dalam seminggu. “Kami berharap, terus berkurang hingga menjadi nol,” lanjut Ahrie.
Bagi dia, pos itu sangat berperan dalam mengurangi angka kecelakaan. Dari aspek psikologi, pengendara merasa aman ketika ada polisi di tengah jalur rawan kecelakaan. Sedangkan dari aspek penanganan, jika terjadi kecelakaan, petugas siap menangani. “Dengan begitu, korban lebih cepat tertolong,” jelasnya.
Sistem yang diterapkan itu tanpa disadari mengundang perhatian beberapa negara. Salah satunya, Konjen Tiongkok yang menyempatkan berkunjung ke posko tersebut. “Mereka melihat mekanisme pengelolaan bersama, dan mereka tertarik,” terang mantan Kasatlantas Polres Tuban itu.
Bukan hanya Tiongkok, dalam waktu dekat, wakil dari Korea Selatan juga akan berkunjung ke pos tersebut. “Mereka akan mengkaji bagaimana pos itu beroperasi,” lanjur Ahrie.
Kabar terakhir, terbit imbauan yang diserukan kepada seluruh polres di Indonesia agar menerapkan konsep penanganan kecelakaan satu atap. “Kami bangga, setidaknya upaya kami bisa memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat,” terang Ahrie.
(Sumber : Koran Jawa Pos)

































