Pimpinan & Anggota DPRD beserta Sekretariat DPRD Kabupaten Sidoarjo Mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012 dan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke - 153

Waktunya Memperhatikan Aspirasi Rakyat

1 comment

Juanasari, ST - Ketua Fraksi Partai Demokrat

Ada banyak kejutan dan hal menarik menyimak nama-nama anggota baru DPRD Sidoarjo periode 2009-2014 ini. Salah satunya patut dialamatkan pada Juanasari, A.Md. Legislator dari Partai Demokrat ini hadir sebagai representatif dari pendukungnya di Dapil V. Yang menarik adalah Juanasari tercatat sebagai anggota termuda dari 50 orang anggota DPRD Sidoarjo. Bersama enam orang lagi, ia kini menjadi salah satu wakil dari perempuan di kota Delta yang berhasil meraih dukungan dari masyarakat untuk duduk di lembaga legislatif. Lebih hebat lagi, meski tergolong masih yunior, Juanasari kini mencatatkan diri sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Sidoarjo.

Sebagai pendatang baru di pentas politik sosok Juanasari memang belum banyak dikenal oleh masyarakat Sidoarjo. Maklum sebelumnya ia memang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan studinya serta membantu bisnis ayahnya yang memiliki usaha jasa konstruksi. Alumni D 3 ITS ini memang sejak awal berniat meneruskan usaha yang sejak lama telah dirintis ayahnya tersebut. Oleh karenanya selepas menamatkan pendidikannya di SMUN 3 Sidoarjo ia mantap memilih jurusan teknik Sipil.

Ditanya mengenai jurusan teknik yang ia pilih, Juanasari menjawab bahwa Teknik Sipil adalah sebuah impian baginya untuk meneruskan usaha orang tuanya. “Basicnya ya dari perusahaan ayah saya. Jadi ketika saya memilih terjun di bidang ini saya lebih banyak turun keperusahaan.,” ujarnya memberi alasan. Dari sini prestasi studinya pun layak mendapat acungan jempol. IP yang ia raih menurut pengakuannya termasuk bisa dibanggakan.” IP saya tidak pernah kurang dari 3, dan terakhir IP saya sempat mencapai 3,35,” bangganya.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, seiring dengan berjalannya waktu jalan hidup pun berkata lain. “ Kebetulan Ayahanda saya adalah seorang ketua partai,” tutur Juanasari menuturkan awal mulai karir politiknya. Ya, bermula dari sang ayah, H. Sarto yang terpilih sebagai Ketua Partai Demokrat Sidoarjo Tahun 2007, sejak itu secara tidak langsung Juanasari berkenalan dengan dunia politik. Dari awalnya mengamati, sedikit-demi sedikit ia mulai tertarik dengan dunia baru tersebut. Mungkin karena kedekatan antara ayah dan anak, dunia yang digeluti sang ayah pun menjadi akrab dan menarik bagi Juanasari.

Selang beberapa saat, Legislator yang masih single ini sempat dipercaya ayahnya memegang posisi bendahara Partai Demokrat. Namun karena saat itu masih terikat dengan kegiatan kuliah, ia mengaku waktu untuk partai pun tak bisa seratus persen di jalaninya. Ia harus membagi waktunya antara kuliah dan partai. Karuan saja Juanasari masih lebih memilih bangku kuliahnya. Ia beralasan pendidikan adalah hal yang harus tetap  menjadi nomor satu.

“ Ketika itu yang ada di pikiran saya adalah ingin cepat lulus biar tidak mengganggu yang lain selain bisa berkonsentrasi pada satu bidang,”terang perempuan yang doyan membaca ini. Nah ketika berhasil merampungkan kuliahnya barulah Juanasari lebih dalam berkecimpung di politik. Dan orang yang menjadi teman diskusi sekaligus gurunya adalah ayahnya sendiri. Dari beliaulah ia banyak mendapat masukan terkait dunia politik. Di sela-sela berkecimpung di politik, Juanasari juga memegang jabatan direktris di perusahaan ayahnya. Dua hal ini bisa berjalan beriringan dengan managemen waktu yang telah ia susun.

Sebagai sosok perempuan yang aktif di dua bidang yang sama-sama menuntut komitmen yang kuat, Jauanasari tak pernah merasa kerepotan. Bahkan ia mengaku bertekat nantinya akan memperjuangkan kepentingan perempuan dibanyak hal. Momen pemilu legislatif akhirnya menjadi ajang pembuktian eksistensinya di dunia politik. Melalui pertimbangan yang matang ia memberanikan dirinya untuk ikut dalam proses demokrasi tersebut. Sekaligus ini menandai langkah kongkretnya di panggung politik.

Juanasari tak menampik jika ia memang banyak diuntungkan sebagai anak seorang ketua partai besar. Dirinya juga merasa amat diuntungkan dengan sosok SBY selaku Presiden yang juga pendiri Partai Demokrat. Apalagi di saat-saat terakhir ini popularitas Partai Demokrat dengan SBY memang hampir tak tersaingi kontestan lain. Pendek kata Juanasari telah berada pada jalur yang tepat dalam meniti karir politik.

Namun demikian ia menolak keras jika ia tak berusaha sama sekali. Apalagi sistem yang diterapkan adalah perolehan suara terbanyak. “Banyak hal yang saya perjuangkan saat itu. Terutama tentang perempuan,” ingatnya. Seperti yang lain ia juga harus berjuang meyakinkan masyarakat didapilnya untuk memberi dukungan sebanyak-banyaknya. Mulai dari sosialisasi ke perkumpulan Ibu-Ibu pada tingkatan terbawah semisal Posyandu hingga kampanye door to door, juga telah dirasakannya. Hal seperti itulah yang amat berkesan baginya. Lantas bagaimana dengan posisinya di perusahaan ? Juanasari menjawab kalau sesaat sebelum maju menjadi caleg posisi itu telah dilepasnya alias telah mengundurkan diri dari jabatan direktris.

“Sekarang waktunya memperhatikan aspirasi rakyat,” tandasnya. Sebab ia pun amat sadar kalau semua ini adalah amanah yang berat dari rakyat. Untuk itu, Juanasari juga telah membekali  dirinya dengan resep khusus agar tak canggung bersanding dengan legislator lain yang rata-rata pria dan usianya juga diatasnya. Apa itu ? Tak lain adalah rasa kebersamaan serta saling menghormati satu sama lain. Ini semua ia akui sebagai hikmah dari kuliahnya dulu yang rata-rata memang didominasi anak laki-laki. “ Kebersaman ini yang selalu saya bawa hingga saat ini,” ungkapnya. Resep yang lain ? “ selalu semangat dalam segala hal “ Kalau loyo, apapun kegiatan yang kita lakukan tidak akan maksimal,” tuturnya.

Dengan resep sederhana ini ia mengaku cepat beradaptasi dengan rekan-rekan yang usianya jauh berada diatasnya. “Saya sering sharing dengan teman-teman sesama Dewan dan kami telah menganggap sebagai teman sendiri,” tuturnya politikus yang masih belum tahu kapan akan mengakhiri masa sendirinya.***

(Sumber : Majalah Parlementaria Edisi 26 Vol 4 Tahun 2009)


  1. M.Amiludin,ST

    (Perjuangan Hidup)

    Dikisahkan, ada seekor anjing yang masih muda dan terkenal dengan keangkuhannya. Dia merasa dirinya gagah, berani, gesit, dan cepat dalam berlari serta pandai dalam memburu mangsa sasarannya.

    Suatu siang yang terik, si anjing yang terbangun dari tidur nyenaknya memutuskan hari ini dia ingin berburu dan menyantap binatang kesukaannya yakni seekor kelinci putih yang masih muda. Hem…air liurnya segera menetes membayangkan nikmatnya daging hasil buruannya. Saat berlari-lari kecil untuk memulai hari perburuannya, tidak lama kemudian, dia melihat seekor tikus berlari melintas di depannya. Dengan iseng, dikejarnya si tikus, ditangkap dengan kuku kakinya yang tajam, tikus yang ketakutan dipermainkan dengan gembira dan setelah puas bermain, si tikus pun dilepas diiringi suara raungan si anjing untuk menakut-nakutinya.

    Setelah melihat tikus yang lari ketakutan, ekor si anjing kembali melambai santai. Dia melanjutkan perjalannya sambil mewaspadai setiap gerakan di sekelilingnya, tekadnya kuat untuk mencari kelinci walaupun perutnya terasa makin melilit karena kelaparan. Setelah cukup lama waktu berlalu, akhirnya dia berhasil menemukan si kelinci dan segera terjadilah kejar kejaran yang seru di antara mereka.

    Kelinci yang ketakutan mengerahkan segenap tenaga dan kekuatannya berusaha menyelamatkan diri. Tanpa mempedulikan lagi segala rasa sakit akibat luka-luka di sekujur tubuhnya akibat dari menerjang dan menerobos setiap semak berduri yang dilaluinya. Hingga tiba-tiba dilihatnya sebuah lubang di tepi tebing segera dilemparkan tubuhnya masuk ke lubang gelap itu. Si anjing yang kehilangan jejak sibuk menggonggong dan mengais di sekitar lubang tetapi tubuh dan kakinya tidak cukup panjang untuk meraih kelinci di dalam lubang.

    Di saat yang bersamaan, anjing melihat seekor ayam di sekitar situ. Dengan segera ditangkap dan dijadikanlah mangsa. Anjing yang kelaparan tidak lagi memperdulikan apa yang menjadi makanannya. Seekor anjing tua yang menyaksikan semua ulah si anjing muda menertawakannya. “Hahaha…. Anak muda jika semua penghuni hutan tahu, apakah Kamu tidak malu? Kesombongan dan kehebatan larimu ternyata dikalahkan oleh kelinci. Taukah Kau, kenapa seekor kelinci bisa mengalahkanmu?” Sambil tertunduk malu si anjing muda menggelengkan kepala, “Karena kelinci berlari demi mempertahankan hidupnya. Sedangkan Kamu berlari untuk sekedar mengejar kesenangan dan memenuhi rasa laparmu. Kalian sama-sama berlari tetapi mempunyai motivasi yang sangat berbeda. Maka tidak heran si kelinci berhasil lolos dari kejaranmu karena kelinci berjuang untuk hidupnya.”

    Yth,,Ibu Juanasari,

    Seperti saat kelinci di hadapan pada kondisi terpepet dikejar oleh anjing dengan segenap tenaga si kelinci berjuang penuh totalitas sehingga bisa lolos dari kematian. Demikian pula perjuangan manusia di kehidupan ini, sering kita dihadapkan pada kondisi terjepit, stagnan, mundur. Kalau mental kita tidak kuat maka cenderung berhenti berusaha akhirnya yang ada tinggal depresi dan keputusaasaan yang berkepanjangan.

    Dalam menghadapi krisis apa pun sedapat mungkin kita harus tanggap, responsif, proaktif, dan berani menghadapi kenyataan itu. Dengan determinasi yang tinggi dan keberanian, kita akan mampu keluar dari krisis dan sekaligus tampil sebagai pemenang.

    (dari cerita itu? bgmn menurut ibu juanasari,,, menyikapainya sesuai dengan TUPOKsi yang ada pada ibuk sekarang) kita Sharing,,,,,, Lho bu saya rakyat dapil Ibuk …

Beri Komentar