Pencarian
Wisata Kuliner Kampoeng Jajanan
Wisata Belanja di Kabupaten Sidoarjo bertambah satu lagi setelah kampung batik-Jetis, kampung sandal-Krian. Kini hadir wisata belanja kuliner alternatif: Kampoeng Jajanan Kedungsumur Krembung.
Bagi sebagian orang yang pernah mampir ke Kecamatan Krembung, tentu tidak akan pernah lupa dengan eksotika kawasan pedesaan yang masih asri terjaga. Dengan hamparan sawah serta tanaman tebu milik masyarakat yang masih luas menghijau tentu membuat mata kita betah untuk berlama-lama menatapnya. Pemandangan ini nampak sangati serasi dengan perkampungan warga yang seakan mengingatkan kita akan kampung tempo dulu. Dengan halaman yang masih luas diselingi tanaman yang tumbuh dengan rindang disetiap pekarangan rumah, seakan menyapa ramah setiap tamu yang datang berkunjung. Sungguh sebuah nuansa alam yang sudah makin susah kita jumpai didaerah lain.
Namun potensi yang ada di daerah ini tak hanya itu saja. Dibalik alamnya yang asri, diam-diam kecamatan yang terletak di Barat Daya Kota Sidoarjo ini pun memiliki daya tarik lain. Di salah satu desa yang ada di Krembung, sejak lama ternyata telah menjadi penghasil jajanan tradisional. Namanya Desa Kedung Sumur. Desa ini terletak di sebelah selatan dari pusat Kecamatan Krembung yang sekaligus berbatasan dengan wilayah Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto. Beberapa saat lalu Bupati Sidoarjo, Drs. H. Win Hendrarso, M.Si. meresmikan daerah ini sebagai “Kampoeng Jajanan”.
Setelah diresmikan oleh Bupati, keberadaan desa ini mungkin akan makin dikenal banyak orang. Kini, untuk menemukan wilayah ini akan semakin mudah. Di depan kampung yang warganya sebagian besar membuat kue ini telah dibangun sebuah gapura bercat hijau yang menjadi ciri khas Kota Sidoarjo. Dengan warna hijau terang serta mencolok mata, disitu tertulis dengan jelas “ Kampoeng Jajanan Kedung Sumur “. Pada malam haripun akan mudah dikenali sebab papan tulisan yang ada di gapura tersebut disorot oleh lampu yang sangat terang.
Upaya Pemkab ini memang cukup beralasan. Dari desa ini bermacam-macam jajanan khas seperti kucur, wajik, onde-onde, kelanting, lapis, putu ayu dan aneka kue bernuansa tradisonal yang lain dihasilkan. Yang menarik, ternyata kue-kue tersebut dijual tidak hanya disekitar Krembung saja tapi sampai ke Kota Sidoarjo yang jaraknya cukup jauh dari sana. Konon usaha membuat kue ini telah ada dan ditekuni masyarakat setempat sejak tahun 1965 silam. Tak heran jika sebagian besar dari mereka menjadikan profesi membuat kue sebagai mata pencarian utamanya.
Salah satunya seperti yang dilakoni oleh Sutarmi. Perempuan 59 tahun ini tinggal di RT 2, dan jarak rumahnya dari gapura kampung jajanan kurang lebih 200 meter. Ia dan keluarganya telah sejak lama menggantungkan ekonomi keluarganya dengan membuat kue wajik, dadar gulung dan lainnya. Menurut Sutarmi usaha ini memang turun temurun, termasuk resep kue bikinannya yang berasal dari warisan orang tua. Setiap hari ia memulai aktifitasnya pada malam dan dilanjutkan pada pagi hari. Seperti pagi itu saat Parlementaria melihat langsung ibu dua anak tersebut sedang menyiapkan kue wajiknya yang telah jadi. Memanfaatkan sebuah ruangan sederhana dalam rumahnya, kue yang terbuat dari ketan itu dicetak dalam bentuk yang menarik. Selanjutnya siap di jual, sebagian diambil oleh para pemesan yang telah datang pada malam sebelumnya.
Dari keterangan Sutarmi, hampir sebagian pembuat kue disini memulai aktifitasnya pada malam hari. Jadi tak heran sepanjang pagi hingga siang itu, Parlementaria hampir tak menjumpai kegiatan yang menandakan warga sedang membuat kue. “Awalnya pemerintah tidak percaya bahwa dusun kami adalah penghasil kue yang cukup besar. Karena jika siang hari memang sepi dan tak nampak penjual ataupun pembeli kue. Sehingga mereka sempat mensurvey tempat kami hingga dini hari,” Ujar Sutarmi sambil menata kuenya.
Alhasil, sebagian besar pembuat kue Kedung sumur kerap menerima order pada sore hari kemudian di malam harinya produksi dilakukan secara serentak, dan pada dini hari para pemesan kue berbondong bondong datang mengambilnya. “ Kalau kuenya telah siap, malam haripun sudah banyak yang mengantri untuk mengambilnya. Pada saat itu pintu kami telah dibanjiri pembeli,” imbuhnya.
Karena kelezatannya telah banyak dikenal luas, warga diluar desa atau kecamatan pun banyak yang datang untuk memesan atau membeli langsung. Selain nikmat, kue produksi warga di sini juga tidak menggunakan pemanis buatan serta bahan pengawet. Hal ini menurut Sutarmi juga bagian dari kiat mereka agar pelanggan nyaman dan aman menyantap kue buatan mereka. “ Kalau ditambah dengan obat gula, kuenya tidak akan tahan lebih lama. Jadi saya hanya menggunakan gula asli. karena lebih awet,” ungkapnya.
Oleh karenanya hingga kini masing-masing dari mereka telah memiliki pelanggan tetap yang telah terjalin sejak dulu. Khusus dirinya, Sutarmi mengaku kuenya terjual sampai Porong, Pandaan dan sekitarnya karena suaminya menjualnya sendiri dengan memakai sepeda angin. Khusus untuk pesanan, instansi perkantoran juga banyak yang memesan kue darinya.
“Biasanya kami hanya menyediakan kue dalam bungkus plastik sedang kotaknya, mereka siapkan sendiri. Tapi untuk kue sejenis horok-horok (rebusan tepung ketan yang diberi taburan parutan kelapa dibagian atasnya) atau kue lain yang tersaji terpisah dan membutuhkan tempat, biasanya kami bungkus dalam mika,” Sutarmi menjelaskan.
Harga yang ia tawarkan kepada konsumen tergolong murah. Dijamin pembeli tak akan merogoh koceknya terlalu dalam. Rata-rata Per biji kue wajik, dadar gulung atau kue lain sesuai pesanan ia hargai Rp.500. Dan harga ini hampir sama diterapkan oleh penjual kue yang lain disana.
Sejak diresmikan menjadi sebuah kampoeng jajanan, para penjual ini sepakat untuk mendirikan koperasi. Anggotanya gabungan kurang lebih 50 kk pembuat kue “Kebutuhan bahan sekarang mahal, jadi kalau kurang ya kami pinjam dari koperasi. Dulu kami sempat diberi dana oleh Pak Win setelah diresmikannya kampung ini sebagai pemasok jajanan, tapi itu hanya cukup untuk modal beberapa kali saja,” terang Sutarmi Ia beralasan berbagai bahan kue seperti gula, tepung, kelapa dan sebagainya sekarang naik semua harganya. Untuk itu mereka terpaksa mengurangi ukuran kue untuk menutup modal.
Dari usaha yang ia jalani ini, sutarmi mengaku untuk saat ini hasilnya memang tak seberapa besar dibanding banting tulangnya dalam membuat kue. Selama ini dari 5 Kg ketan ia mampu menghasilkan 390 biji jajan wajik.Dari jumlah sekian, modal yang harus ia keluarkan lebih dari Rp.200 ribu. “Ya untungnya memang tidak seberapa. Saya hanya pakai hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Disamping saya sendiri juga sudah tua. Jadi saya buat untuk mengisi waktu saja. Kalau untuk di andalkan tentu tidak mungkin,” paparnya.
Di usianya yang kian renta ini Sutarmi memang hanya mengkhususkan pada dua macam kue saja. Selain modalnya tidak terlalu banyak, tenaganya tidak terlalu terkuras. Sebab menurutnya usaha membuat kue ini harus rela jika jam tidur menjadi berkurang. Nenek tiga cucu ini hanya berharap kelak apa yang telah ada didesanya bisa terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Sebab sayang dengan keberadaan desanya sebagai kampung jajanan dan telah diresmikan oleh Bupati tidak bisa terus bertahan. Padahal apa yang menjadi potensi desanya ini bisa dikembangkan lagi. ***
(Sumber : Majalah Parlementaria Edisi 21 Tahun 2008)






























asal usul kue serabi itu gmna c?
Untuk asal usul serabi dari mana ?, mungkin sampai saat ini belum tahu, sebab masih belum ada penelusuran terhadap makanan jajanan ? hayoo siapa berminat mungkin nanti bisa difasilitasi oleh Dinas Pariwisata, Olah Raga & Kebudayaan